Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan pandangannya pada kuliah umum sekaligus peluncuran buku di Institut SEBI, Depok, Jawa Barat, bahwa otoritas daerah harus menjadi wadah utama bagi pembentukan sumber daya manusia berkualitas yang nantinya akan memimpin Indonesia.

Visi Pemerintah Daerah untuk SDM Unggul

Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, atau investasi, melainkan juga dari kemampuan pemerintah lokal menumbuhkan individu yang memiliki kompetensi, karakter kuat, integritas, serta daya adaptasi tinggi.

Data Tenaga Kerja dan Tantangan Pendidikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Mei 2026 tenaga kerja Indonesia mencapai 155,41 juta orang, dengan 148,19 juta di antaranya bekerja dan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 %. Mahyeldi menekankan perlunya kebijakan yang menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, termasuk peningkatan keterampilan, literasi digital, dan kecerdasan buatan.

Strategi 4I dan 5T untuk Kepemimpinan

Ia memperkenalkan kerangka “4I” – iman, ilmu, integritas, dan inovasi – sebagai landasan agar teknologi dapat memperkuat kapasitas manusia. Selanjutnya, pendekatan “5T” (temukan, tempa, tingkatkan, tumbuhkan, tugaskan) dirancang untuk mengidentifikasi potensi, membentuk karakter, meningkatkan kompetensi, membangun jaringan, serta memberi kesempatan bagi generasi muda memimpin solusi nyata.

Warisan Kepemimpinan Sumatera Barat

Mahyeldi mengingat kembali tradisi kepemimpinan Sumatera Barat yang melahirkan tokoh‑tokoh nasional seperti Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, dan Buya Hamka, dan menilai jejak tersebut sebagai pijakan bagi lahirnya pemimpin baru yang relevan dengan zaman.

Pandangan Menteri Ketenagakerjaan

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, yang juga berbicara pada acara itu, menyoroti tantangan utama Indonesia untuk menciptakan pekerjaan berkualitas tinggi berbasis keahlian dan riset. Ia mencatat posisi Indonesia pada peringkat ke‑55 dari 139 negara dalam Indeks Inovasi Global 2025, serta menekankan pentingnya talenta berbasis pengetahuan, rasa ingin tahu, kepedulian, dan keberanian di kalangan mahasiswa.

Mengenai AI, kedua pembicara sepakat bahwa generasi muda tidak perlu takut bersaing dengan mesin; kompetisi akan datang dari sesama manusia yang mampu memanfaatkan AI, sementara empati, etika, dan hubungan interpersonal tetap menjadi keunggulan utama.