Pada salah satu sesi, pemateri Drs. Sayonara Siregar, M.Ag., mengupas tuntas Poin E dari buku Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah, yakni tentang "Kehidupan dalam Mengelola Amal Usaha". Alih-alih sekadar metode ceramah, beliau menginstruksikan setiap kelompok untuk memvisualisasikan ke-13 nilai dasar amal usaha tersebut ke dalam bentuk gambar.
Terkait metode ini, Drs. Sayonara menjelaskan bahwa pendekatan visual digunakan untuk menstimulasi daya ingat peserta. “Di sini kita mencoba memainkan apa yang disebut dengan abstraksi. Kita menstimulasi pikiran dengan simbol-simbol abstrak agar mengisi porsi memori otak kanan, merujuk pada teori kecerdasan Gardner. Harapannya, melalui gambar-gambar ini, kita sebagai orang dewasa akan lebih mudah mengingat dan meresapi ke-13 nilai panduan tersebut,” jelasnya.
Setelah proses menggambar rampung, diberlakukan metode saling kunjung. Masing-masing tim bertugas untuk menganalisis dan mendengarkan penjabaran makna dari karya kelompok lain, untuk kemudian memberikan penilaian akhir berupa poin bintang. Melalui proses yang dinamis ini, Kelompok 2 (K2) berhasil keluar sebagai pemenang dengan perolehan tertinggi 17 poin bintang.
Ilustrasi Kelompok 2 di atas kertas flipchart dinilai sangat tajam dan filosofis. Sosok manusia dan matahari dimaknai sebagai pencerahan dakwah, sementara lampu, roda gigi, dan palu merepresentasikan inovasi serta kerasnya etos kerja profesional. Adanya gambar buku, perisai, dan jaring gawang menegaskan bahwa pengelolaan amal usaha harus berpedoman pada aturan, dijaga ketat integritasnya dari kepentingan pribadi, serta memiliki orientasi gol yang jelas.
Menutup sesi tersebut, Drs. Sayonara memberikan refleksi mendalam terkait ruh pergerakan dalam amal usaha Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa kedudukan dan fungsi utama amal usaha pada hakikatnya adalah sebagai media dakwah—baik untuk diri sendiri, organisasi, maupun masyarakat luas.
“Jangan sampai salah meletakkan niat. Ini adalah dakwah. Meskipun mungkin maisyah (pendapatan) yang kita terima tidak sesuai dengan standar, insyaallah pahala akan terus mengalir. Itulah prinsip utamanya,” pesan beliau.
Lebih lanjut, ia mengingatkan hakikat kepemilikan di dalam Muhammadiyah agar tidak terjadi bias personal. Amal usaha mutlak milik Persyarikatan, dalam hal ini Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan bukan kepemilikan pribadi.
“Kita ini orang-orang yang bekerja dan berkhidmat, sejatinya hanya datang dan pergi. Kewajiban kita hanya dua: membangun amal usaha agar semakin baik sesuai kemampuan kita, dan mewariskan yang terbaik bagi generasi yang akan datang,” tutup Drs. Sayonara, yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan dari para peserta sebelum sesi dikembalikan kepada moderator.
editor:Piral(



Komentar Pembaca